Minggu, 19 Oktober 2014

Tari Bujang Gasing




Tarian ini menggambarkan kelincahan para penari dalam mengekspresikan gerakan Gasing saat di mainkan. Seperti berputar-putar, saling berbenturan, bahkan bergerak kesana kemari tak tentu arah. Tarian ini merupakan suatu ungkapan dinamika masyarakat yang terus berputar dan pada akhirnya selaras pada tujuan.

Minggu, 14 September 2014

Tari Japin Sigam

Tari Japin Sigam adalah Suatu tarian yang mempunyai gerakan yang khas pada bahu penarinya yang biasa di sebut "Gedek".Tarian ini menggambarkan pergaulan remaja pesisir yang bersenda gurau sambil menirukan gerakan burung laut

Tarian Mayang Kencana

Tari Mayang Kencana adalah sebuah tari yang menggambarkan  rasa syukur atas kehadiran para tamu-tamu Agung di Kerajaan Cantung Kalimantan Selatan.Tari Mayang Kencana merupakan Simbol dari Kesuburan, Kesejahteraan dan memohon kepada Allah SWT.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Sabtu, 14 Juni 2014

Dinding Papan (Dindin Papan) Alias Gusti Rachman bergelar Pangeran Adipati



Dindin Papan


Dindin-Papan sering saya dengar ketika berada di Cantung. Menurut penuturan masyarakat di Cantung di katakan bahwa Dindin-Papan ( Dinding Papan) adalah sebuah kerajaan yang kemungkinan besar di berikan oleh Raja Cantung Pangeran Kusumanegara atau Aji Darma kepada saudara beliau Pangeran Adipati dan menjadikan kerajaan baru yang bernama "Kerajaan Dinding Papan". Saya cukup bingung untuk menjawab pertanyaan masyarakat disana di karenakan saya belum dan atau tidak ada data yang akurat yang saya dapatkan.
menurut mereka, cerita rakyat  tentang kerajaan dinding papan sampai sudah di buat "Mamanda" atau semacam 'ludruk' kalau di Pulau Jawa dan  menjuarai suatu event atau kejuaraan dari tingkat kecamatan sampai tingkat propinsi.

Suatu ketika seorang kawan saya dari Belanda yang bernama Mr Donald Tick, (beliau adalah pemerhati atau sejarawan tentang sejarah kerajaan kerajaan di Indonesia)  menanyakan saya, siapakah "Pangeran Adipati"?. Terus terang saya tidak dapat menjawabnya, lalu saya di informasikan tentang Pangeran Adipati tersebut. .

Saya berusaha menggali lebih jauh, dengan harapan dapat memperoleh informasi melalui  mbah google. Alhamdulillah ternyata saya dapatkan lebih dari yang saya bayangkan. dibuku "Militaire Spectator Tijdschrift Nederlandsche Leger" tahun 1864. yang di katakan bahwa Dindin Papan adalah Gusti Rachman yang bergelar Pangeran Adipati ada pada  Jaman kekuasaan  Raja Aji Madura (1842-1863).  Bukan pada jaman  Raja Aji Darma atau Pangeran Kusumanegara (1864-1900) seperti yang masyarakat ketahui.,. Terjawab sudah teka teki cerita tentang Kerajaan Dindin papan yang sepertinya sudah melegenda di masyarakat Cantung, seakan mereka sebagai pelaku sejarah.

Pada Masa Perang Banjar banyak para bangsawan yang melarikan diri ke daerah daerah pedalaman. Mereka menanggalkan segala atribut Gelar Pegustian atau Pangeran agar tidak di kenali oleh Belanda.
Kira-kira pertengahan April 1863, Pangeran Aji Madura sebagai Raja Cantung di datangi oleh Gusti Rachman yang bergelar  Pangeran Adipati alias Dindin Papan, untuk memaksa agar Pangeran Aji Madura mau ikut bersama-sama melawan Belanda. Pangeran Aji Madura sebagai Raja Cantung tidak ingin terjadi konfrontasi dengan Pangeran Adipati. Untuk menghindari hal itu Pangeran Aji Madura meninggalkan Kerajaan Cantung.

Di katakan bahwa  Pangeran Adipati mempunyai sekitar 300 prajurit yang bersenjatakan keris dan tombak. Pada masa itu di ceritakan jalan menuju lokasi tempat Pangeran Adipati tesebut dapat dicapai dengan lewat sungai cantung. Kalaupun melalui jalan darat kondisinya sangat sulit, karena banyak batu terjal dan mendaki.
Pangeran Aji Madura lalu pergi meninggalkan cantung bertemu dengan  Pangeran Syarif Hasan sebagai Raja Batu Licin bersama Pangeran Muda Arifbillah alias Aji Semarang. Mereka meninggalkan Kerajaannya dan berusaha meminta bantuan kepada pihak Belanda, Karena diberitakan bahwa Pangeran Adipati akan membumi hanguskan seluruh Kerajaan Cantung.
Belanda mengirimkan bantuan ke kerajaan cantung agar bisa membantu Raja Aji Madura yang mana wilayah cantung sudah di kuasai oleh Pangeran Adipati yang di anggap pemberontak oleh belanda.

Tentara Belanda berangkat dari Pelabuhan Banjarmasin tanggal 22 April 1863 di bawah komando kapten infanteri G.Fen dengan membawa 35 Infantri, 6 Artileri dan 1 Ambulan, dan tiba di muara cantung 3 hari kemudian atau tgl.25 April 1863.


di ceritakan bahwa Belanda kesulitan di medan peperangan.Jika mereka (tentara belanda) melalui jalan darat akan mereka temui pohon-pohon yang sudah berumur ribuan tahun dan jalannya mendaki serta terjal. Di sepakati oleh mereka bahwa penyerangan akan melalui jalan sungai.

Belanda memperhitungkan kekuatan musuh dan posisinya, mereka  memutuskan untuk memperkuat salah satu divisi pendaratan sebanyak 22 orang, di bawah letnan 2 'kelas J . Setelah konsultasi antara dua komandan, maka di tetapkan hari berikutnya akan memulai penyerangan melalui sungai  cantung, dan untuk merencanakan ada tindakan lebih lanjut. 
Sebagai hasil dari informasi lebih lanjut diketahui bahwa DINDIN-PAPAN bisa, jika dicapai dalam tiga cara:

 l. Melalui Sungai, dpt di tempuh dalam dua hari, jika di dalamnya tidak ada kendala
2 .Jalan setapak dapat di tempuh dalam enam hari  
3 .Melalui tepi sungai cantung di sebelah kiri. di sepanjang jalan melalui hutan yang akan ditebang
   

Maka pada tanggal 26 April di mulailah agresi hari pertama.

Tentara Belanda  unggul dalam persenjataan tetapi menuju kearah lokasi Dindin Papan sangat sulit di tembus. Meskipun dengan hanya memakai senjata tombak, keris dan panah, prajurit Pangeran Adipati tetap melakukan perlawan. Mereka membakar pemukiman2 penduduk dan banyak merubuhkan pohon yang berada di bantaran sungai cantung sehingga akses satu2nya melalui sungai membuat tentara belanda terhambat.Belanda memakai 25 orang terpidana/kerja paksa/pribumi sebagai pionir yang bersama-sama memegang senjata howitzer untuk memulai peperangan. tetapi di cegat oleh prajurit Pangeran Adipati dengan hanya mengandalkan tombak dan anak panah. banyak tentara belanda yang terbunuh karena penyerangan tiba-tiba oleh prajurit Pangeran Adipati.

Pertempuran memakan waktu 3 hari 3 malam. Pangeran Adipati tertangkap tetapi ke 2 anaknya Gusti Awang dan Gusti Mastop terbunuh.

Pada tanggal 29 April tentara belanda membawa Pangeran Adipati ke Banjarmasin dan tiba pada tanggal 1 Mei 1863. berikut adalah referensi bukunya.



 


 


 




Sabtu, 31 Mei 2014

Pembentukan Lembaga Adat "KERAJAAN CANTUNG"

 KERUKUNAN DAN KERAKATAN KERAJAAN CANTUNG


Pembentukan Lembaga Adat di rasa sangat di perlukan,  untuk melestarikan Adat dan Budaya dari Kerajaan Cantung yang telah lama di tinggalkan.  Maka Pada Tanggal 28 Mei 2014 di bentuklah Kerukunan dan Kerakatan Kerajaan Cantung yang di hadiri oleh masyarakat Cantung dan Muspida Kecamatan Cantung  Kalimantan Selatan. Banyak warga yang ikut berpartisipasi di acara pembentukan itu. 

Tempat Pembentukan Lembaga Adat di selenggarakan di Kecamatan Cantung, Kelumpang Hulu, Tampak hadir dari Kapolsek Cantung dan Koramil Cantung beserta staf kecamatan. berserta para pemuka masyarakat dan pembekal (Lurah) daerah-derah Cantung dan sekitarnya.








                                                         
                                           


                                                           










   


















 

Selasa, 20 Mei 2014

Makam-makam Para Raja Dan Ratu di Cantung dan Sekitarnya

Cantung atau Kelumpang hulu sejauh 311 KM dari Bandara Syamsudin Noor Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Kita dapat menempuh sekitar 6-7 jam perjalanan sampai kota Cantung dengan naik Travel. Ongkosnya sekitar Rp.200 ribu.

Pusat Kota Cantung dahulu adalah BANUA LAWAS yang sekarang menjadi desa. Sebelum adanya jalan Raya Trans Kalsel yang di buat sekitar tahun 1982,  Cantung hanya dapat di tembus dengan melalui aliran Sungai Cantung.  Menuju desa Banua Lawas dapat kita tempuh sekitar +/- 6 Km. Disana terdapat kompleks makam Para Raja.

Pada Tahun 1862 di waktu  Raja Aji Madura berkuasa,  sepupu beliau Gusti Rachman  dengan gelar Pangeran Adipati alias "Dindin Papan " melarikan diri ke Cantung ketika terjadi Perang Banjar. Gusti Rachman membawa sekitar 300 prajurit yang bersenjatakan keris dan tombak.
Menurut cerita penduduk setempat sungai Cantung berubah warna menjadi merah, karena banyak tentara belanda dan prajurit Pangeran Adipati yang gugur dan di buang ke sungai.
Gusti Rachman tertangkap tetapi ke 2 anaknya Gusti Awang dan Gusti Mastop gugur.



cuplikan buku tentang peperangan Pangeran Adipati melawan Belanda





Makam Besar di Desa Banua Lawas, Cantung




Makam Ratu Intan2 ( Aji Tukul) dan Aji pati ( Pangeran Agong)
Lokasi Makam Ratu Intan 2 dan Pangeran Agong terletak sekitar 25 KM dari Cantung ke arah utara atau di daerah Bangkalaan Melayu. Daerah Bangkalaan Melayu berseberangan dengan Bangkalaan Dayak.Menurut cerita penduduk setempat, Ratu Intan 2 dan Aji Pati sudah beragama Islam dan mensyiarkan agama Islam..sedangkan daerah Bangkalaan Dayak masih menganut agama "KAHARINGAN" 
Makam tersebut sudah di Pugar oleh Pemda Kota Baru. Ratu Intan 2 adalah Perkawinan dari Raja  Aji Jawa dengan Gusti Kamil BT Gusti kamir. Lokasi Makam sudah di jadikan Cagar Budaya dan sudah banyak di ziarahi dari Peziarah  berbagai daerah di Kalimantan Selatan


Makam Ratu Intan 2 dan Makam Aji Pati ( Pangeran Agong)




Makam Ratu Intan 1, Makam Aji Semarang dan Makam Gusti Ali Akbar 

Lokasi Makam Ratu Intan 1 berada di Daerah Bakau kecamatan Pamukan sekitar 150 Km atau setara dengan 3 jam perjalanan memakai mobil.dari Cantung . Kita akan melewati daerah Perkebunan Sawit. Di belakang Makam Ratu Intan 1 juga terdapat Makam Aji Semarang atau bergelar Pangeran Muda Arifbillah yang adalah Cucu dari Ratu Intan 1.

Ada beberapa meriam yang berhasil di pindah dari Bekas Kerajaan Ratu Intan 1 yang berlokasi di seberang Makam. Pemindahan nya cukup unik. Konon ada seseorang yang sanggup memindahkan meriam2 tersebut tanpa bantuan alat berat, tetapi di pindah dengan cara di panggul. Dan menurut cerita penduduk setempat, hanya keturunannyalah yang dapat mengangkatnya. 


Diluar lokasi Makam yang berada di belakang , akan kita temukan Makam salah satu anggota badan dari Gusti Ali Akbar yang dulu berwasiat atau berikrar agar tubuh beliau bisa berada di 4 daerah.



Makam Pangeran Mangku Prabu Jaya 
Makam tersebut berada di daerah Manunggul Lama sekarang berada di kecamatan Sungai Durian. Dari Cantung sekitar 120 Km atau setara 3 Jam berkendara dengan mobil.
Pangeran Mangku Prabu Jaya adalah Seorang Raja dari Kerajaan Sampanahan. Pangeran Mangku Prabu Jaya adalah Putra dari Sultan Ali Akbar (Gusti Ali Akbar) nama kecil beliau adalah Gusti Hina. Sungguh sangat di sayangkan makam tersebut belum di sentuh oleh Pemda sebagai aset warisan budaya.



Makam Pangeran Mangku Prabu Jaya bin Sultan Ali Akbar



Makam Raja Aji Jawa
Makam Raja Aji Jawa terletak di Gunung Jawa  Desa Sakadoyan Kecamatan Cengaal. Bila kita dari Sungai Durian jaraknya sekitar 40 Km melalui perkebunan sawit, atau setara 1,5 Jam. Raja Aji Jawa adalah Raja yang menyatukan 6 Kerajaan yang dahulunya di kuasai oleh Kerajaan Paser. Pada masa kekuasaan Raja Aji Jawa mewajibkan setiap pendatang dari Tanah Jawa agar membawa bibit Pohon Jati. maka jika kita berziarah akan banyak terlihat banyak Pohon Jati. Dahulu sekitar tahun 1991 apabila kita akan berziarah harus melalui laut dan di tempuh sekitar 8 Jam memakai perahu Klotok. Sungguh sangat di sayangkan juga Makam Raja Aji Jawa ini juga belum tersentuh oleh Pemda sebagai warisan budaya.



Makam Raja Aji Jawa yang berada di Gunung Jawa, desa Sakadoyan