Kami bersama Direktur Kementrian Pendidikan dan Kebudayan Bapak.Endjat, beserta Kasubdit Sejarah Ibu Amur dan seorang Staff nya Ibu Hermasari, Kami juga di dampingi oleh Pihak Balai Cagar Budaya Mojokerto untuk ber Audiensi tentang adanya Raja Cantung yang di buang oleh Belanda ke Bondowoso. Kami di terima oleh bapak Sekretaris Daerah yaitu Bapak Hidayat beserta Kadis Pariwisata Bapak Sigit Purnomo dan Kasie Sejarah Bapak Herry.
Kerajaan Cantung adalah salah satu Kerajaan yang berada di wilayah Tanah Bumbu yang berada di Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan.
Jumat, 13 Maret 2015
Minggu, 18 Januari 2015
Minggu, 19 Oktober 2014
Tari Bujang Gasing
Tarian ini menggambarkan kelincahan para penari dalam mengekspresikan gerakan Gasing saat di mainkan. Seperti berputar-putar, saling berbenturan, bahkan bergerak kesana kemari tak tentu arah. Tarian ini merupakan suatu ungkapan dinamika masyarakat yang terus berputar dan pada akhirnya selaras pada tujuan.
Minggu, 14 September 2014
Tari Japin Sigam
Tari Japin Sigam adalah Suatu tarian yang mempunyai gerakan
yang khas pada bahu penarinya yang biasa di sebut "Gedek".Tarian ini
menggambarkan pergaulan remaja pesisir yang bersenda gurau sambil menirukan
gerakan burung laut
Tarian Mayang Kencana
Sabtu, 30 Agustus 2014
Sabtu, 14 Juni 2014
Dinding Papan (Dindin Papan) Alias Gusti Rachman bergelar Pangeran Adipati
Dindin Papan
menurut mereka, cerita rakyat tentang kerajaan dinding papan sampai sudah di buat "Mamanda" atau semacam 'ludruk' kalau di Pulau Jawa dan menjuarai suatu event atau kejuaraan dari tingkat kecamatan sampai tingkat propinsi.
Suatu ketika seorang kawan saya dari Belanda yang bernama Mr Donald Tick, (beliau adalah pemerhati atau sejarawan tentang sejarah kerajaan kerajaan di Indonesia) menanyakan saya, siapakah "Pangeran Adipati"?. Terus terang saya tidak dapat menjawabnya, lalu saya di informasikan tentang Pangeran Adipati tersebut. .
Saya berusaha menggali lebih jauh, dengan harapan dapat memperoleh informasi melalui mbah google. Alhamdulillah ternyata saya dapatkan lebih dari yang saya bayangkan. dibuku "Militaire Spectator Tijdschrift Nederlandsche Leger" tahun 1864. yang di katakan bahwa Dindin Papan adalah Gusti Rachman yang bergelar Pangeran Adipati ada pada Jaman kekuasaan Raja Aji Madura (1842-1863). Bukan pada jaman Raja Aji Darma atau Pangeran Kusumanegara (1864-1900) seperti yang masyarakat ketahui.,. Terjawab sudah teka teki cerita tentang Kerajaan Dindin papan yang sepertinya sudah melegenda di masyarakat Cantung, seakan mereka sebagai pelaku sejarah.
Pada Masa Perang Banjar banyak para bangsawan yang melarikan diri ke daerah daerah pedalaman. Mereka menanggalkan segala atribut Gelar Pegustian atau Pangeran agar tidak di kenali oleh Belanda.
Kira-kira pertengahan April 1863, Pangeran Aji Madura sebagai Raja Cantung di datangi oleh Gusti Rachman yang bergelar Pangeran Adipati alias Dindin Papan, untuk memaksa agar Pangeran Aji Madura mau ikut bersama-sama melawan Belanda. Pangeran Aji Madura sebagai Raja Cantung tidak ingin terjadi konfrontasi dengan Pangeran Adipati. Untuk menghindari hal itu Pangeran Aji Madura meninggalkan Kerajaan Cantung.
Di katakan bahwa Pangeran Adipati mempunyai sekitar 300 prajurit yang bersenjatakan keris dan tombak. Pada masa itu di ceritakan jalan menuju lokasi tempat Pangeran Adipati tesebut dapat dicapai dengan lewat sungai cantung. Kalaupun melalui jalan darat kondisinya sangat sulit, karena banyak batu terjal dan mendaki.
Pangeran Aji Madura lalu pergi meninggalkan cantung bertemu dengan Pangeran Syarif Hasan sebagai Raja Batu Licin bersama Pangeran Muda Arifbillah alias Aji Semarang. Mereka meninggalkan Kerajaannya dan berusaha meminta bantuan kepada pihak Belanda, Karena diberitakan bahwa Pangeran Adipati akan membumi hanguskan seluruh Kerajaan Cantung.
Belanda mengirimkan bantuan ke kerajaan cantung agar bisa membantu Raja Aji Madura yang mana wilayah cantung sudah di kuasai oleh Pangeran Adipati yang di anggap pemberontak oleh belanda.
Tentara Belanda berangkat dari Pelabuhan Banjarmasin tanggal 22 April 1863 di bawah komando kapten infanteri G.Fen dengan membawa 35 Infantri, 6 Artileri dan 1 Ambulan, dan tiba di muara cantung 3 hari kemudian atau tgl.25 April 1863.
di ceritakan bahwa Belanda kesulitan di medan peperangan.Jika mereka (tentara belanda) melalui jalan darat akan mereka temui pohon-pohon yang sudah berumur ribuan tahun dan jalannya mendaki serta terjal. Di sepakati oleh mereka bahwa penyerangan akan melalui jalan sungai.
Belanda memperhitungkan kekuatan musuh dan posisinya, mereka memutuskan untuk memperkuat salah satu divisi
pendaratan sebanyak 22 orang, di bawah letnan 2 'kelas J . Setelah konsultasi
antara dua komandan, maka di tetapkan hari berikutnya akan memulai penyerangan melalui sungai cantung, dan untuk merencanakan ada
tindakan lebih lanjut.
Sebagai hasil dari informasi lebih lanjut diketahui bahwa
DINDIN-PAPAN bisa, jika dicapai dalam tiga cara:
l. Melalui Sungai, dpt di tempuh dalam dua
hari, jika di dalamnya tidak ada kendala
2 .Jalan setapak dapat di tempuh dalam enam hari
3 .Melalui tepi sungai cantung di sebelah kiri. di sepanjang jalan
melalui hutan yang akan ditebang
Maka pada tanggal 26 April di mulailah agresi hari pertama.
Tentara Belanda unggul dalam persenjataan tetapi menuju kearah lokasi Dindin Papan sangat sulit di tembus. Meskipun dengan hanya memakai senjata tombak, keris dan panah, prajurit Pangeran Adipati tetap melakukan perlawan. Mereka membakar pemukiman2 penduduk dan banyak merubuhkan pohon yang berada di bantaran sungai cantung sehingga akses satu2nya melalui sungai membuat tentara belanda terhambat.Belanda memakai 25 orang terpidana/kerja paksa/pribumi sebagai pionir yang bersama-sama memegang senjata howitzer untuk memulai peperangan. tetapi di cegat oleh prajurit Pangeran Adipati dengan hanya mengandalkan tombak dan anak panah. banyak tentara belanda yang terbunuh karena penyerangan tiba-tiba oleh prajurit Pangeran Adipati.
Pertempuran memakan waktu 3 hari 3 malam. Pangeran Adipati tertangkap tetapi ke 2 anaknya Gusti Awang dan Gusti Mastop terbunuh.
Pada tanggal 29 April tentara belanda membawa Pangeran Adipati ke Banjarmasin dan tiba pada tanggal 1 Mei 1863. berikut adalah referensi bukunya.



Langganan:
Postingan (Atom)





